Berawal saat memperbaiki saluran air, Sariman sebagai anak sulung pergi ke belakang rumah untuk memperbaiki arah air agar tak lagi masuk ke rumah.
"Abang duluan yang pergi ke belakang rumah lalu ibu menyusul. Air sudah masuk rumah karena hujannya lebat. Aku tadi masih lihat abang naik, dia pakai baju hitam," ujar adik korban Viki Gulo.
Sekitar 15 menit berada di belakang rumah, suara gemuruh sepeti pohon tumbang mendadak terdengar dari arah belakang. Ternyata, longsor sudah terjadi.
"Aku lihat sudah longsor. Batu yang ada di atas sudah ikut longsor. Kupangggil-panggil ibu dan abang, gak ada balasan," Ujar Viki Dengan Nada Sedih
Harapan ibu dan abangnya masih selamat dalam kejadian ini menipis, mengingat hingga dua jam sejak kejadian, keduanya belum pulang ke rumah.
"Ini sudah kelamaan. Kalaulah mereka masih selamat dari kejadian longsor, mama dan abang pasti sudah pulang," jelasnya.
Mawarni Gea, istri Sariman Gulo yang belakangan sampai ke rumah mendadak histeris mengetahui suami dan ibu mertuanya tertimbun longsor.
Ia histeris lalu berusaha pergi ke belakang rumah untuk mencari suami dan ibu mertuanya, namun niat itu ditahan oleh adik dan warga lain.
"Tenangkan dulu. Jangan pergi ke sana, takutnya ada longsor susulan lagi," ujar Viki. Mawarni memang sempat mengurungkan niatnya pergi belakang rumah, namun ia masih histeris.
Kejadian 21 tahun lalu terulang lagi. Sosok Yasine adalah ibu sekaligus kepala keluarga. Suaminya lebih dahulu berpulang akibat longsor pada 2005 silam.
Tanpa kehadiran suami yang sudah berpulang, Yasine membesarkan anak-anaknya seorang diri. Ia bekerja sebagai petani menghidupi delapan orang anaknya.
Sementara itu, Sariman sebagai anak sulung dikenal pria yang ulet. Ia membantu ekonomi ibunya dengan bekerja menjaga sebagai penjaga kebun milik warga lain.
Terkadang, mereka juga diupah untuk mengambil kayu dengan sinso.
"Suami dan putri dari korban sudah meninggal karena longsor. Kejadiannya 2005 lalu. Ini kejadian kedua," ujar Kepala Lingkungan II Wek 1, Batangtoru, Asmara Budi Daulay.
Anak-anak korban longsor Wek 1, Batangtoru, Tapanuli Selatan dibawa mengungsi ke kantor kecamatan pukul 21.30 WIB, Senin (18/5/2026).
Tindakan mengungsikan anak-anak korban longsor ini dilakukan karena khawatir adanya longsor susulan, mengingat lokasi longsor hanya 50 meter saja di belakang rumah.
Ketujuh anak korban dibawa mengungsi ke musala setelah diperintahkan Camat Batangtoru, Mara Tinggi Siregar.
"Para anak korban kami bawa menungsi ke kantor camat karena khawatir adanya longsor susulan. Besok pagi akan kami lakukan proses evakuasi pencarian jasad kedua korban yang tertimbun longsor," ujar Mara Tinggi.
----------
Ketika klik dokumentasi mengarah ke situs lain atau menampilkan iklan, tekan kembali (back) lalu klik ulang dokumentasinya ❗❗❗
Video Atau Gambar Dokumentasi :
1. Dokumentasi
2. Dokumentasi
3. Dokumentasi
Yang Mau Traktir :
Bisa Ke SeaBank : 901251998046
